Pengusaha Ritel Mempilih Rebranding Ketimbang Ekspansi Mal Baru

Nasional33 Dilihat

suarablitar.com — Pengusaha ritel di Jabodetabek mulai mengalihkan fokus investasinya dengan tidak membuka mal baru. Riset dari Colliers Indonesia menunjukkan bahwa tidak ada mal baru yang dibuka sejak awal 2025, dengan total pasokan ruang mal di Jakarta masih bertahan di angka 4,9 juta meter persegi.

Hal ini terlihat pada kuartal II 2025, di mana wilayah Jabodetabek mencatat pasokan mal mencapai 3,2 juta meter persegi. Saat ini, hanya ada dua proyek mal baru yang sedang dalam tahap pengerjaan dengan total luas 70.000 meter persegi, yang direncanakan selesai pada tahun 2026.

Senior Associate Director Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menjelaskan bahwa banyak pengusaha memilih untuk memperbarui fasilitas mal yang sudah ada ketimbang membangun yang baru. “Tren ini berpotensi menghasilkan konsep mal yang lebih inovatif,” ujarnya. Sebagai contoh, salah satu mal di Jakarta telah dialihfungsikan menjadi pusat kendaraan listrik pertama di Indonesia.

Beberapa mal lainnya sedang melakukan pembenahan fisik serta penyegaran bauran tenant untuk mempertahankan minat pengunjung. Namun, pengembang besar seperti PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) tidak membuka mal baru sepanjang tahun ini. Meskipun demikian, kinerja keduanya berbeda. Pendapatan bisnis mal CTRA turun 3,09 persen menjadi Rp 369,75 miliar pada semester I-2025, sedangkan PLIN tumbuh 4,11 persen menjadi Rp 247,53 miliar.

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) juga memilih untuk melakukan rebranding Plaza Semanggi menjadi Lippo Mall Nusantara, dengan hasil pendapatan meningkat 7,63 persen menjadi Rp 96,56 miliar. Ferry menambahkan bahwa langkah untuk menahan ekspansi merupakan strategi adaptif mengingat proyeksi permintaan yang diperkirakan hanya tumbuh 3 persen per tahun hingga 2028.

Kondisi pasar di wilayah Jabodetabek tetap positif untuk proyek ritel di masa depan, didukung oleh meningkatnya permintaan di pinggiran kota.